1M

Seks bukanlah hal yang tabu untuk diperbincangkan secara serius dengan anak. Terlebih akhir-akhir ini makin banyak kejahatan seksual yang mengintai. Pergaulan anak-anak dan masa remaja saat ini pun bahkan sangat membahayakan. Kita tentu tidak ingin anak kita terjerumus dalam sisi gelap seks, seperti misalnya seks bebas, seks dini, kehamilan tak diharapkan, dan lain sebagainya. Karena itu, pendidikan seks amat penting diberikan kepada anak sejak kecil. Pemberian materi memang tidak sama untuk masing-masing anak, berdasarkan usia, pengalaman, dan ketanggapan anak mengenai lingkungan sekitar.

Dalam artikel ini ini, Boykepedia akan memberikan penjelasan lebih terperinci pendidikan seks seperti apa yang bisa biberikan orang tua kepada anak, sesuai dengan kategori usianya.


Usia Balita

Jangan mengira anak usia 3-4 tahun tidak butuh mendapatkan pendidikan seks, Boykepers! Semenjak mereka sudah dapat diajarkan untuk berinteraksi, sebaiknya kita sudah menyisipkan pendidikan seks. Pada anak usia balita, ajarkan untuk malu saat anak tidak memakai baju di hadapan orang lain. Selain itu, ajarkan kepada mereka tentang bagian tubuh secara terperinci. Mana yang harus dilindungi, dan bagian mana yang boleh disentuh orang lain.

Hindari mengajarkan nama-nama plesetan untuk menyebut bagian tubuh, seperti misalnya titit untuk penis. Ajarkan untuk menyebut nama yang sebenarnya untuk memudahkan orang dewasa memahami jika dia mengalami masalah di bagian tersebut.


Usia Anak-anak

Pada usia ini, anak-anak sudah mulai memiliki teman dan membandingkan dirinya. Dia mulai mempertanyakan fungsi-fungsi bagian tubuh. Karena rasa penasarannya tinggi, terkadang anak-anak sering bertanya hal-hal remeh temeh. Jangan ditertawakan dan disepelekan, sehingga anak menjadi malu dan takut untuk bertanya! Jawab dengan sabar dengan jawaban yang sebenarnya. Misalnya, saat anak bertanya “Mengapa bisa ada adik bayi dalam perut ibu?” maka jawablah “Ayah dan Ibu melakukan cara yang spesial dan Tuhan mengizinkan terciptanya adik bayi.” Hindari jawaban-jawaban yang tidak logis untuk menyederhanakan jawaban, karena hal itu bisa membuat anak salah kaprah.


Usia Remaja

Usahakan menjadi tempat curhatan anak pertama kali saat usia mereka remaja. Dampingi ketika mereka mulai mengalami pengalaman seksual pertama seperti misalnya haid dan mimpi basah. Biasanya mereka sudah mengenal apa itu hubungan seksual. Orang tua harus menjadi seorang sahabat yang mau mendengarkan mereka dan memberikan arahan yang tepat. Gali pengalaman dia di sekolah, teman-temannya, dan bagaimana pergaulannya. Jangan sampai anak merasa enggan untuk cerita kepada orang tua dan mempunya rahasia-rahasia misterius.

Orang tua bisa memulai obrolan saat ada tayangan di televisi, atau saat anak menceritakan pengalamannya. Buatlah mereka nyaman untuk bercerita tentang apa saja. Ketika mereka sudah bercerita, pancing opini dari mereka baru kemudian adakan diskusi ringan. Cara ini lebih efektif daripada metode ceramah.


Komunikasi yang baik dari orang tua adalah kunci utama pendidikan seks sejak dini berjalan sukses. Jika anak sudah terbuka dengan orang tua, kewajiban orang tua untuk mengontrol anak menjadi lebih mudah. Jangan terlena jika anak diam saja karena bukan berarti mereka tidak memiliki masalah atau menyembunyikan sesuatu. Mari lindungi anak kita dari terpaan kehidupan seks yang kelam! Ajak mereka memahami seks sebagai kegiatan untuk mengungkapkan rasa cinta kepada pasangan sah, yang penuh dengan muatan agama, moral, sosial, dan budaya yang mulia.

Video terpopuler

Artikel Terbaru
Tanya Dokter