1K

Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan salah satu kanker membahayakan di Indonesia bahkan di dunia. Dalam satu hari, 37 wanita Indonesia didiagnosa positif kanker serviks dan 20 orang meninggal karenanya. Angka yang cukup fantastis, bukan?

Karena popularitasnya yang tinggi, banyak simpang siur informasi yang berkembang dalam masyarakat membicarakan keganasan penyakit ini. Sayangnya, banyak sekali mitos yang dipercaya oleh masyarakat sebagai sebuah kebenaran padahal tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Bukan saja merugikan diri sendiri, pemahaman yang keliru soal kanker serviks dapat menghambat proses penanganan yang tepat.

Berikut ini Boykepedia merangkum beberapa mitos yang keliru soal kanker serviks dan memberikan penjelasan ilmiah.


1. Kanker Serviks terjadi karena pemakaian pembalut yang tidak tepat dan penggunaan toilet umum yang kotor?

Sebenarnya, satu-satunya cara penyebaran kanker serviks adalah melalui kontak seksual atau penetrasi dalam alat kelamin perempuan. Kontak seksual yang dimaksud bukan hanya memasukkan penis ke dalam vagina lho. Benda apa pun yang dimasukkan ke dalam organ vagina dapat dikategorikan sebagai kontak seksual dan berpotensi menginfeksi HPV (Human Papilloma Virus) ke dalam permukaan leher rahim. HPV adalah virus yang menyebabkan kasus terbesar kanker serviks. Karena itu, penggunaan pembalut, pakaian dalam tidak bersih, memakai handuk bergantian, atau penggunaan toilet umum yang kotor tidak akan dapat menyebarkan virus HPV.


2. Gejala kanker serviks mudah dilihat?

Kebanyakan infeksi awal HPV berlangsung tanpa menimbulkan gejala apa pun yang berarti sehingga penderita masih dapat menjalani kegiatan sehari-hari tanpa merasakan sakit. Namun, jika sudah stadium lanjut, akan segera muncul beberapa gejala seperti pendarahan setelah berhubungan seksual, pendarahan  di luar siklus menstruasi, nyeri pada panggul dan paha, dan keputihan abnormal. Karena itu, jika mengalami gejala yang tidak biasa, segera hubungi dokter, Boykepers.


3. Kanker serviks tidak dapat dicegah?

Tenang saja, kanker serviks bisa dicegah kok! Ada tiga cara pencegahan kanker serviks. Yang pertama adalah pencegahan primer yaitu menggunakan vaksin yang mampu menghalau virus HPV. Virus ini bertanggung jawab sebagai penyebab 70% kanker serviks di dunia. Yang kedua adalah pencegahan sekunder dengan melakukan pap smear yang berfungsi mendeteksi sel abnormal atau sel pra kanker. Pemeriksaan pap smear ini dianjurkan untuk perempuan yang sudah aktif berhubungan seksual. Bagi yang belum, lebih baik melakukan vaksin. Pencegahan terakhir adalah dengan tidak berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan.


4. Kanker Serviks hanya mengancam perempuan lanjut usia?

Kabar buruknya, kanker serviks mengancam semua perempuan tanpa memandang usia. Adenokarsinoma, salah satu jenis kanker serviks yang paling agresif, merupakan kanker serviks yang lebih sering terjadi pada perempuan muda dan lebih sulit terdeteksi melalui pap smear. Penelitian menemukan bahwa rentang waktu sejak pertama kali berhubungan seks sampai usia 25-30 tahun merupakan periode infeksi virus penyebab kanker serviks tertinggi pada perempuan. Karena itu, penting sekali pemberian vaksin pada remaja putri untuk mengurangi risiko terinfeksi virus HPV ini.


5. Kanker serviks tidak dapat disembuhkan?

Tenang saja, pengidap kanker serviks yang terdeteksi pada stadium awal namun dapat tetap hidup mencapai 92 persen. Harapan hidup juga akan semakin tinggi jika kanker didiagnosis makin awal. Karena itulah pap smear penting sekali dilakukan secara berkala, khususnya untuk perempuan yang sudah berkeluarga atau sudah aktif secara seksual.


Setelah membaca artikel di atas, kamu jadi paham kan mitos-mitos apa saja yang beredar di masyarakat tapi ternyata keliru? Kamu tidak perlu cemas dan khawatir jika sudah menjaga kebersihan diri dan berhubungan seksual dengan aman. Lakukan pengecekan tubuh secara berkala tambah asupan informasi dari sumber yang meyakinkan dan kredibel.

Video terpopuler

Artikel Terbaru
Tanya Dokter