771

Perempuan dan perawan, seakan menjadi dua hal yang tak boleh terpisahkan. Perempuan harus perawan dan yang perawan harus perempuan. Keperawanan menjadi suatu hal yang amat berharga, bahkan dijadikan tolok ukur kesucian seorang perempuan. Kehebatan seorang perempuan bahkan diukur dari seberapa kuat mereka mempertahankan keperawanan hingga malam pertama dengan suami yang sah.

Dalam norma sosial, keperawanan akan hilang jika selaput dara perempuan yang terletak pada bagian dalam vagina robek. Sehingga, seorang perempuan yang selaput daranya sudah tidak utuh serta merta dihamiki sebagai sosok perempuan asusila. Bahkan, beberapa tes masuk sekolah atau pendidikan mensyaratkan seorang perempuan perawan. Dalam kajian medis, apakah tes keperawanan ini penting? Apakah keberadaan selaput dara memberikan dampak biologis terhadap tubuh yang menjadikan seseorang menjadi asusila? Yuk simak kajian Boykepedia dalam artikel berikut ini.

Selaput Dara dalam Ilmu Medis

Selaput dara atau hymen adalah lapisan kulit tipis yang merentang, menutup sebagian lubang atau mulut vagina. Bentuk selaput ini dapat berubah-ubah karena berbagai faktor seperti misalnya penetrasi, kecelakaan, atau persalinan. Setiap perempuan memiliki karakteristik dan bentuk selaput dara yang berbeda-beda. Ada yang elastis ada yang tidak, ada yang tipis ada yang lebih tebal, ada yang menutup seluruh mulut vagina ada yang tidak.

Karena berbagai macam perbedaan inilah, kita sulit untuk mengaitkan keutuhan selaput dara dengan kehidupan seksual seorang perempuan. Ada yang telah aktif berhubungan seksual, namun memiliki selaput dara yang elastis, sehingga tidak mengalami perubahan yang berarti. Di sisi lain ada pula yang belum pernah sama sekali berhubungan seks namun selaput dara nyaris tidak menutup mulut vagina sama sekali. Hal ini jugalah yang menyebabkan tidak semua penetrasi di malam pertama akan menimbulkan pendarahan.

Selaput dara dapat robek karena berbagai aktivitas, seperti berolahraga, cedera, pemeriksaan vagina, masturbasi, atau penetrasi seksual. Pada anak-anak dan remaja, selaput dara yang robek dapat pulih dengan cepat. Sementara pada orang dewasa, kondisi dan bentuknya sangat bervariasi.

Lantas apakah keperawanan masih hanya dapat disimpulkan dari keberadaan selaput dara?Dalam ilmu medis pun, tidak ada cara tertentu dan pasti untuk mengetahui apakah seorang perempuan pernah berhubungan seks atau belum.

Stigma Masyarakat

Walaupun begitu, stigma yang masih beredar dalam masyarakat tidak dapat begitu saja diubah. Tolok ukur kebaikan seorang perempuan terletak pada selaput dara di mulut vaginanya. Tidak sedikit cerita seorang istri yang dicap kotor karena pada saat penetrasi di malam pertama tidak berdarah.

Karena selaput dara tidak begitu saja dapat mencerminkan seksualitas perempuan dan seksualitas perempuan juga tidak dapat disangkutpautkan dengan moralitas, kita tidak dapat menilai seorang perempuan dari selaput daranya.

Laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan dalam hal moralitas. Jika perempuan yang tidak perawan dipermasalahkan dalam masyarakat, seharusnya laki-laki yang tidak perjaka juga. Sementara keperjakaan lebih sulit dinilai daripada keperawanan.

Perlu dipahami bersama, hubungan seksual adalah ranah pribadi seseorang dan tidak dapat digunakan sebagai penilaian karakter dan kualitas hidup. Hanya saja, hubungan seksual lebih baik dilakukan dengan pasangan yang sah dan tidak berganti-ganti pasangan.

Nah, gimana menurutmu, Boykepers? Menilai seseorang memang tidak dapat hanya berdasarkan satu faktor saja. Kita harus mengenali seseorang dari berbagai macam sisi kehidupannya untuk dapat menilai hatinya.

Video terpopuler

Artikel Terbaru
Tanya Dokter