1K

Setelah berita terkuaknya grup Facebook beranggotakan 7000 orang lebih yang saling bertukar materi pornografi pedofil, masyarakat menjadi lebih aware terhadap lingkungan. Tidak sedikit yang menjadi resah, paranoid, dan lebih protektif terhadap anak. Kekhawatiran ini wajar, apalagi untuk orang tua yang memiliki anak di bawah umur. Kasus grup Facebook ini mungkin hanyalah sebagian kecil yang terkuak. Bisa saja sebenarnya orang-orang yang memiliki kelainan seks menyimpang ini memang banyak berkeliaran tanpa kita sadari.

Upaya yang bisa dilakukan adalah memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku pedofil. Sempat beberapa waktu yang lalu pemerintah mencetuskan hukuman kebiri bagi pemerkosa. Beberapa ahli kesehatan, termasuk dr. Boyke sudah mengkaji kebijakan ini. Hasilnya, hukuman kebiri ternyata tidak begitu efektif. Selain memberikan dampak buruk bagi kesehatan pelaku, hukuman ini nampaknya akan melanggar Hak Asasi Manusia. Untuk membuat efek jera, pelaku pedofil bisa dijatuhi hukuman dua kali lipat lebih banyak dari kejahatan narkoba.

Selain pemberian hukumans eberat-beratnya bagi pelaku, yang bisa kita lakukan untuk mencegah peristiwa ini terjadi adalah melindungi anak-anak kita dari intaian predator seks yang bisa saja tinggal di sekitar kita. Berikut ini beberapa hal yang bisa diterapkan sebagai upaya perlindungan.


1. Ajari Anak Memperlakukan Tubuhnya

Hal paling mendasar adalah mengajari mereka bagian-bagian tubuh dan fungsinya dengan benar. Biasakan menyebut bagian tubuh dengan nama aslinya, misalnya untuk menyebut penis jangan biasakan dengan istilah “titit”. Selain itu, ajarkan anak untuk melindungi tubuhnya dan melarang orang lain untuk menyentuh bagian-bagian tertentu selain orang tua. Anak juga perlu belajar untuk mengenal malu, jika tidak memakai baju di luar rumah, atau orang lain melihat bagian tubuhnya yang tersembunyi.


2. Munculkan Intuisi Bahaya dalam Dirinya

Setiap orang memiliki intuisi untuk melindungi diri dari orang yang jahat. Biarkan jika anak memiliki ketakutan tertentu dengan orang asing. Jangan dilarang, namun arahkan dengan benar. Sebagai orang tua, kita juga harus menghormati kenyamanan anak. Misalnya, jika kita menggelitik dan anak bilang “stop”, cobalah untuk mengalah. Hal ini untuk menumbuhkan percaya diri anak, bahwa mereka memiliki kendali atas tubuh mereka sendiri. Jika dalam keadaan terhimpit, mereka akan terlatih untuk berteriak “Stop” dan “Tolong” untuk meminta bantuan.


4. Tumbuhkan Disiplin Positif

Kebanyakan pelaku predator seks suka memberikan iming-iming kepada anak. Karena itu, berlakukan disiplin yang positif di rumah. Jangan terlalu suka memberi hadiah kepada anak atas perilakunya. Biasakan anak melakukan hal baik karena memang kewajibannya, bukan karena ada iming-iming tertentu.


5. Waspadai Orang-Orang di Sekitar

Tak terkecuali siapa pun, waspadai semua orang. Perhatikan relasi dan hubungan antara anak dan orang-orang di sekitar kita. Biasanya, pedofil akan bersahabat dengan anak dan menunjukkan bahwa dia perhatian di depan orang tuanya. Ajarkan anak tentang rahasia, karena pelaku pasti meyakinkan korban untuk menutup mulut. Beri tahu anak hal-hal apa saja yang wajib diceritakan dan apa yang bisa mereka simpan sendiri.


6. Ajarkan Pelajaran Seks kepada Anak Laki-Laki dan Perempuan

Pendidikan seks bukan hanya kepada anak perempuan. Anak laki-laki juga harus mendapatkan pendidikan yang sama. Selain mengajarkan mereka untuk melindungi diri sendiri, harus juga ditanamkan kepada anak bahwa mereka harus menghargai tubuh orang lain, tidak mengolok tubuh teman, dan tidak melakukan tindak pelecehan seperti memegang atau melukai bagian tubuh orang lain.


Video terpopuler

Artikel Terbaru
Tanya Dokter